"ALLAH dulu, ALLAH lagi, ALLAH terus"
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Tapak Sabda




1...2...3...



Dejavu dan Jamais vu..

Hidup di dunia ini tak lebih lama daripada sehela napas.

Bukankah selain waktu sesaat ini, semua yang pernah kita jalani tidak begitu beda dengan semua yang belum kita jalani?

Apapun yang anda sentuh, percayai, dan tampak pada hari ini akan menjadi-seperti realitas kemarin-sebuah ilusi dihari esok.

Tidak jarang kita merasa “pernah” mengalami, padahal sesungguhnya belum (dejavu). Sebaliknya kita merasa “belum” padahal sesungguhnya pernah (jamais vu).

Otak tak bisa membedakan antara ingatan dan fakta, mimpi dan imajinasi. Imajinasi pada masa lalu tidak terlalu berbeda dengan kenangan pada masa depan; keduanya tidak disini! masa lalu adalah gelap, masa depan penuh misteri.

Penggalan dari buku

“Tapak Sabda”,

fauz noor..

Minggu, 22 Mei 2011

Bidadari-Bidadari Surga


Penulis:Tere Liye

Penerbit: Republika

Setelah pembaca disuguhi kisah dari buku Tere Liye yang menggugah jiwa; Hafalan Surat Delisa dan Moga Bunda disayang Allah, kini Tere Liye mengajak pembaca untuk menyelami indahnya Islam dari berbagai sisi yang berbeda, dari kedalaman hati, dari ketulusan kasih sayang dan pengorbanan yang tak kenal lelah.

Dalam membaca buku Bidadari-Bidadari Surga, pembaca diajak untuk mengikuti alur maju mundur yang menarik. Bahkan, halaman awal buku ini adalah kejadian-kejadian di akhir cerita. Gaya bahasa Tere Liye yang sangat indah dan dengan kedalaman ilmunya membuat pembaca menyelami keindahan hati seorang Laisa, gadis yang secara fisik jauh dari sempurna, namun memiliki hati seindah mutiara yang tersimpan baik. Kejadian-kejadian mengharukan mewarnai penggalan-penggalan episode masa lalu Laisa dan keempat adiknya.

Selasa, 10 Mei 2011

Tolong Panggil Nama Saya


Wartawan senior Republika, Siwi Tri Puji Budiwiyati, menyempatkan untuk menulis pengalamannya selama dia menunaikan ibadah haji tahun 2009 (1430H) yang lalu. Dia tak hanya bercerita soal pengalaman pribadinya ketika menjalani prosesi haji, tapi juga kisah-kisah menyentuh tentang orang-orang yang tak lelah berjuang menggapai ridha-Nya di Tanah Suci.

Ketika jamaah menyaksikan Kabah tepat berada di depan mata mereka, kata-kata tak lagi cukup untuk menggambarkan “perjumpaan” Allah dan umatnya itu. Kisah perjuangan Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar segera terbayang. Ibadah Haji adalah ritual untuk menapak tilas dan memperingati kebesaran mereka. Berhaji adalah perjalanan pulang ke rumah Sang Pemilik Sifat-Sifat Maha tak Terbilang.

Tengok saja tulisan yang diberi judul Tolong Panggil Saya, Kabahnya di Sebelah Mana?, Mandi Hujan di Masjidil Haram, Bandara Jeddah? Capek Deh, Naik Omprengan dari Masjidil Haram, Hang Out di “Negeri Kaum Pria”, Berinternet dari Kandang Unta dan Merpati Makkah. Tulisan-tulisan itu menggambarkan betapa ibadah haji memang penuh warna, baik fisik maupun rohani. Dan kita selalu ingin kembali mengunjungi “Rumah” Allah.

Sebuah buku yang segar dan menggugah.